Diberdayakan oleh Blogger.
place your

ADS here

just call me
Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan

Menu Favorit Personel Efek Rumah Kaca

Written By Agung Setiawan on Selasa, 16 Agustus 2011 | 7:48 PM

efek rumah kaca band
Para penyanyi biasanya menghindari makanan berminyak seperti gorengan. Namun itu tak berlaku bagi grup band Efek Rumah Kaca. - istimewa
Bandung - Para penyanyi biasanya menghindari makanan berminyak seperti gorengan. Namun itu tak berlaku bagi grup band Efek Rumah Kaca.

"Kami biasanya kalau lagi kumpul bareng, sebelum beduk buka puasa hunting makanan yaitu gorengan. Tapi Alhamdulillah suara masih terjaga," kata drumer sekaligus vokalis latar Efek Rumah Kaca Akbar Bagus Sudibyo yang diamini vokalis sekaligus gitaris Cholil Mahmud kepada wartawan, di kawasan Jalan Tamansari Kota Bandung, Sabtu (6/8/2011) malam.

Jumlah gorengan yang mereka beli, lebih banyak dibandingkan pada bulan biasa. Selain gorengan,Cholil mengaku suka lontong yang diberi sambal

"Kalau lagi ngantor rebutan tajil sama temen kantor, kalau barengan band ya makan gorengan dan lontong yang diberi sambal, ya jajanan anak sekolah gitu," ceritanya.

Makna Ramadan untuk personel band indie ini berbeda-beda. Untuk Akbar, Akbar Ramadan kali ini harus dapat menahan segala nafsu mulai dari nafsu makan, jaga omongan dan emosi.

"Hal itu harus dibawa meskipun sudah lebaran, gak hanya pas puasa saja," tutur Akbar yang pertama kali pua penuh sejak kelas 3 SD ini.

Sementara Cholil merasa puasa tahun ini lebih hancur dibandingkan dengan tahun lalu. Karena tahun ini hanya mengerjakan ibadah wajib sedangkan ibadah sunat sering kali ditinggalkan.

"Tahun ini pekerjaan kantor lebih numpuk dan anak gue sudah mulai gede jadi agak repot, jadi puasa dan Salat lima waktu yang dikerjakan, sementara Salat tarawihnya bolong-bolong gak kayak tahun lalu," tambahnya.

Oleh: Yatni Setianingsih
7:48 PM | 0 komentar | Read More

Indonesia ingin jadi rumah batik dunia

Written By Agung Setiawan on Senin, 08 Agustus 2011 | 6:11 PM

pameranbatik
JAKARTA - Staf Ahli Menteri Perindustrian Doddy Soepardi mengatakan, Indonesia bertekad menjadi rumah batik dunia setelah mendapat pengakuan dari UNESCO bahwa batik adalah warisan budaya tak benda milik negeri ini.

"Sebagai tindak lanjut dari pengakuan UNESCO itu, kami terus melakukan kegiatan untuk mengembangkan batik," kata Doddy yang juga Dewan Pembina Yayasan Batik Indonesia (YBI) kepada ANTARA, di Jakarta, Ahad (7/8).

Ia mengatakan, dalam dua tahun terakhir Indonesia giat melakukan promosi batik di dalam dan luar negeri, terutama melalui pameran, di antaranya pameran batik warisan budaya di plasa Kementerian Perindustrian, yang omzetnya mencapai Rp 1,7 miliar, dalam empat hari.

"Selain pameran, pada 28 September sampai 2 Oktober 2011, kami berencana melakukan 'World Batik Summit', di Jakarta, yang akan dihadiri oleh sekitar 750 - 800 orang peserta dari dalam dan luar negeri," katanya.

Doddy mengemukakan, 'World Batik Summit' (WBS) akan mengambil tema "Indonesia Global Home Batik." Artinya, kata dia, siapa saja di dunia boleh punya batik, tapi rumahnya hanya ada di Indonesia.

"Kami bertekad Indonesia menjadi rumah batik dunia," ujar Doddy yang juga Ketua WBS yang akan diselenggarakan di Balai Sidang, Jakarta itu.

Ia menjelaskan, WBS akan berisi acara seminar, pameran, peragaan busana batik dari Indonesia, Thailand, Jepang dan Shanghai (China), serta kunjungan ke sentra produksi dan museum batik, terutama di Jakarta dan sekitarnya. "Pada akhir acara WBS akan ada deklarasi bahwa Indonesia adalah rumah batik dunia," katanya.

Doddy berharap, berbagai kegiatan yang dilakukan mampu mempertahankan batik sebagai warisan budaya Indonesia, kemudian mendorong peningkatan kualitas batik nasional, meningkatkan pendapatan perajin, dan memperluas pasar batik Indonesia.

Berdasarkan data Kemenperin, pada 2010 nilai produksi batik nasional naik 13 persen menjadi Rp 732,67 miliar dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 648,94 miliar. Menperin MS Hidayat bahkan menargetkan produksi batik bisa menembus Rp 1 triliun.
6:11 PM | 0 komentar | Read More