Terbelit Masalah Energi

Written By Agung Setiawan on Kamis, 28 Juli 2011 | 3:13 PM

BBM
Awal Juli ini ada kabar menggembirakan. Sejumlah tim mahasiswa Indonesia menguasai lomba mobil irit Shell Eco Marathon 2011 di Sirkuit Sepang, Malaysia untuk kategori urban concept. Peserta Indonesia mendominasi dengan 4 peserta menduduki empat ranking utama, yaitu Sapu Angin 4 ITS, Cikal Nusantara dari ITB, Sapu Angin2 ITS dan Semart2 dari Universitas Gajah Mada.

Hasil itu menunjukkan bahwa Indonesia tak kekurangan sumber daya manusia bertalenta untuk menghasilkan mobil hemat energi. Kini, tinggal ada kebijakan yang serius untuk terus mengembangkan langkah-langkah penghematan energi.

Gerakan itu menjadi penting karena konsumsi energi Indonesia terus meningkat. Bukan hanya karena kebutuhan yang terus naik, tetapi juga karena hal-hal yang semestinya bisa dihindarkan seperti kemacetan yang luar biasa di kota-kota besar. Kemacetan yang tinggi tak pelak terkait dengan pertambahan kendaraan bermotor yang pesat, tanpa diimbangi penambahan panjang jalan yang seimbang.

Untuk Indonesia, pertumbuhan konsumsi energi bukan persoalan enteng, karena negara ini masih terbelit permasalahan subsidi bahan bakar minyak. Kian meningkatnya konsumsi, maka kian membuat beban negara menjadi berat.

Pemerintah sendiri telah menghitung, lonjakan volume konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi terburuk tahun ini adalah 40,49 juta kiloliter, naik 1,8 juta kiloliter dari pagu awal 38,6 juta kiloliter. Dengan lonjakan konsumsi itu, subsidi BBM tahun ini diproyeksikan menembus Rp117 triliun atau bertambah sekitar Rp22 triliun dari pagu awal.

Selama ini, subsidi bagi BBM jenis premium (oktan 88) dan minyak solar dimaksudkan untuk menjaga keterjangkauan harga energi bagi warga kurang mampu. Seiring tingginya harga minyak dunia dan naiknya permintaan BBM, beban subsidi yang ditanggung pemerintah main berat.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (2009) dan Bank Dunia (2011) menunjukkan, setengah golongan berpenghasilan tertinggi mengonsumsi 84 persen BBM bersubsidi. Sebaliknya, sepersepuluh warga termiskin hanya mengonsumsi kurang dari satu persen total bensin subsidi. Data ini menunjukkan, sebenarnya subsidi BBM tak tepat sasaran.

Sementara pemerintah belum kunjung menyesuaikan harga BBM, langkah penghematan bisa menjadi salah satu alternatif. Asalkan memang dijalankan secara serius. Jika keseriusan dijalankan, mudah-mudahan instruksi penghematan BBM bersubsidi untuk kendaraan operasional kementerian dan lembaga sebesar 10 persen mulai Agustus 2011, dan penggunaan listrik sebesar 27 persen tahun ini bisa tercapai.

Oleh Thonthowi Djauhari
Thonthowi Djauhari memulai pengalaman jurnalistiknya sejak 1996. Ia pernah bertugas di Republika, Tempo, dan kini menjabat deputi redaktur pelaksana harian Jurnal Nasional. Ia mengikuti isu-isu energi dan sumber daya mineral.

0 komentar:

Posting Komentar

Pembaca budiman tolong kolom komentarnya diisi ya Tks before (^_^)